Senin, 30 April 2018

7 Cara Jinakkan Rasa Malas Saat Menulis

Suatu hari Dani bertemu dengan Ali saat dia sedang ngopi di warung. Dani ingin sekali menanyakan perihal kenapa di blog Ali tidak ada artikel baru lagi.
"Nggak nulis lagi, bro?"
"Iya, lagi males aja."

Dari cerita singkat diatas, saya terinspirasi untuk menulis artikel ini. Alasan klasik yang seringkali menghambat seseorang menyelesaikan tulisannya atau bahkan untuk menulis, yaitu MALAS. Rasa malas ini jika dibiarkan terus menerus bisa berbahaya, Sobat. Bisa jadi aktivitas Sobat terganggu gara-gara malas untuk menulis. Seperti contoh diatas, seorang blogger malas untuk menulis artikel baru di blognya. Jika itu dibiarkan, bisa jadi pengunjungnya akan bosan dengan artikel yang itu-itu saja. Jika tetap dibiarkan lagi, blognya akan benar-benar ditinggalkan pengunjung. Bukankah ini sangat merugikan bagi dirinya dan juga orang lain?

Maka dari itu, kita harus atasi dahulu akar masalahnya, yaitu MALAS.  Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak malas dan tetap memiliki semangat menulis? Ini dia 7 cara yang akan menjawab permasalahan yang mungkin saya ataupun Sobat alami.

1. Tentukan tujuan
   
Tentukan visi dan misi yang jelas saat Sobat hendak menulis. Visi dan misi atau motivasi yang kecil akan cepat membuat semangat menulis kita menurun atau bahkan hilang. Maka dari itu, hendaknya kita buat motivasi dan tujuan yang kuat mengapa kita ingin menulis.

Contohnya, 'Aku mau jadi penulis hebat seperti J.K. Rowling'. 'Aku harus bisa nulis, biar bisa nerbitin buku terus aku bagiin ke anak-anak jalanan'.

Tujuan yang kuat akan selalu membangkitkan semangat kita saat kita mulai malas untuk menulis.

2. Sedikit tapi rutin.

Lebih baik menulis selama 10 menit dalam sehari, daripada 70 menit sekali dalam seminggu.

Rutinitas menulis akan membuat kita merasa ada sesuatu yang hilang jika satu hari saja kita tidak melakukannya.

Rutinitas itu membuat kita seperti mewajibkan diri sendiri untuk melaksanakan rutinitas tersebut. Saat kita rutin menulis setiap hari, maka rasa malas itu akan menghilang oleh rasa wajib menulis yang tumbuh dengan sendirinya dari dalam diri kita.

3. Terus Menulis.

Saat saya menulis artikel ini, saya pun sedang malas. Malas sangat berbahaya, karena ide yang awalnya banyak bermunculan dalam otak akan menguap begitu saja. Tapi, saya terus menulis artikel ini, kalau tidak mana mungkin Sobat baca artikel ini sekarang.

Malas sama dengan mengeluh. Mengapa sama? Karena dua-duanya semakin membuat kita merasa berat untuk melakukan sesuatu. Saat kita berhenti mengeluh, maka rasa berat itu akan berangsur menghilang. Begitupun dengan menulis, saat kita terus menulis dan berhenti mengeluh, maka rasa malas itu perlahan juga akan menghilang.

4. Refreshing.

'Semuanya udah saya lakukan, tapi kenapa tetap malas, ya?'

Ketiga cara diatas sudah Sobat lakukan? Tapi tetap aja malas? Tenang, mungkin otak Sobat sudah lelah. Hentikan aktivitas menulis sejenak, lalu refreshing.

Refreshing nggak harus ngeluarin duit, kok. Sobat bisa aja keluar rumah sebentar, terus jalan-jalan atau main ke rumah teman. Yang terpenting otak kita sudah fresh.

Sobat juga bisa coba untuk menulis di taman, tepi sungai, atau tempat-tempat yang sejuk dan bisa membuat otak kita tetap fresh.

5. Jangan lupa istirahat.

Ini juga bahaya. Jangan sampai menulis hingga lupa waktu. Menulis terus, sampai-sampai tidur hanya sejam sehari. Otak dan fisik kita itu seperti komputer, sama-sama butuh istirahat. Komputer saja bisa rusak kalau digunakan terus menerus tanpa istirahat, apalagi otak yang menghabiskan banyak daya karena terus digunakan untuk berpikir.

'Kenapa harus istirahat solusinya?'

Sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard University membuktikan bahwa manusia akan memiliki otak yang lebih kuat ingatannya jika mendapatkan tidur yang cukup di malam hari. Hal itu membuktikan bahwa istirahat memiliki manfaat yang besar bagi konsentrasi otak kita. Rasa malas sering datang saat kita harus menulis, tapi otak dan tubuh kita lelah. Maka dari itu, supaya tidak malas kita harus cukup istirahat.

6. Mulai menulis di pagi hari.

Setelah istirahat otak kita akan memiliki daya konsentrasi yang masih cukup tinggi. Jadi, kita harus gunakan konsentrasi itu semaksimal mungkin untuk menulis. Jangan sampai rasa malas itu terburu datang dan kita belum sempat menulis apapun.

Hasilnya juga akan lebih baik dibandingkan saat kita mengerjakannya di siang hari. Karena saat siang hari otak kita sudah banyak terpakai dan lelah.

7. Apresiasi.

Terkadang penghargaan bisa menambah semangat kita dalam melakukan sesuatu. Ini juga berlaku saat kita menulis. Bayangkan, Sobat menulis beribu-ribu tulisan tapi akhirnya hanya jadi tumpukan dokumen saja.

Mulailah untuk menunjukkan karya Sobat kepada orang lain, seperti mengikutkannya dalam lomba, menerbitkannya menjadi sebuah buku, atau bahkan membagikannya percuma dalam rangka sedekah.

'Terimakasih. Tulisannya bagus.'

Sederhana, bukan? Tapi kata-kata itu ampuh meningkatkan semangat menulis dan menghilangkan rasa malas.

8. Sobat bisa tambahkan sendiri di kolom komentar.

Jadi, bagaimana? Apa Sobat siap memberantas rasa malas?

Sabtu, 08 Juli 2017

Apa yang bisa kita tulis dalam karya tulis?


Assalamu'alaikum Wr. Wb. 

Selamat datang di Izzah-rahma Blog. Sobat, sesuai judulnya 'Apa yang bisa kita tulis dalam karya tulis?'. Terkesan menggantung, ya. Oke, sebelumnya kita sudah bahas cara menulis yang baik dan benar. Sekarang kita akan bahas, apa saja sih yang bisa kita tulis. 

Kebanyakan dari kita berhenti menulis karena bingung mau mengawalinya dengan apa. Tentu dengan tulisan, namanya juga menulis. Kalau menggambar, pasti diawali dengan gambaran. Hehehe,  nggak usah basa-basi, langsung kita bahas saja.

Saya pernah bilang, jika kita bisa menuangkan seluruh perasaan kita dalam tulisan. Boleh curhat, pengalaman, ataupun sebuah karya sastra.

Apa itu karya sastra?


Saya sendiri juga baru mengerti jika buku-buku cerita yang saya baca sewaktu sekolah dasar termasuk salah satu jenis karya sastra. Baru setelah saya memasuki bangku SMP. Lalu, apa itu karya sastra? 

Sastra berasal dari bahasa Sansekerta. Kesusastraan berasal dari kata dasar sastra yang mendapat awalan (ke), sisipan (su), dan akhiran (an). Su berarti baik, dan sastra berarti tulisan. Jadi, pengertian susastra adalah tulisan yang baik.

Menurut definisi Usman Effendi, kesusastraan ialah semua ciptaan manusia dalam bentuk bahasa lisan maupun tulisan yang dapat menimbulkan rasa keindahan. Secara umum, kesusastraan Indonesia dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Kesusastraan tertulis.
Yaitu karangan yang diwujudkan dalam bahasa tulis.

2. Kesusastraan lisan.
Yaitu karangan yang diwujudkan dalam bahasa lisan.

Berdasarkan bentuknya, sastra Indonesia dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. PROSA
Prosa adalah bentuk kesusastraan yang bebas (berurai), artinya tidak terikat oleh aturan tertentu, seperti sajak dan irama.

Prosa lama:
-Hikayat
-Dongeng

Prosa baru:
-Cerpen
-Novel
-Riwayat
-Kisah

2. PUISI
Puisi adalah bentuk kesusastraan yang terikat oleh banyaknya baris dalam bait dan banyaknya suku kata tiap baris.

Puisi lama:
-Pepatah
-Perumpamaan
-Ungkapan
-Tamsil
-Pameo

Puisi baru:
-Balada
-Romance
-Ode
-Elegi
-Satire
-Hime
-Epigram
(Sumber: Buku Indonesia Smart oleh Eko Satrio, S,Pd)

Dah, itu tadi hanya garis besarnya saja dari sastra. Kalau kita bahas satu-persatu tidak akan cukup satu artikel. Mungkin butuh satu e-book untuk menjelaskan sastra dari A-Z. 

Tapi, berdasarkan judul diatas, nggak nyambung jika saya hanya jelaskan pengertiannya saja. Harus ada contoh tulisannya. Lalu, apa yang bisa kita tulis dalam karya tulis kita?

Kita akan mulai dengan contoh prosa baru, yaitu cerpen. Cerpen atau dapat disebut juga dengan cerita pendek merupakan salah satu bentuk prosa naratif fiktif yang memaparkan seluk beluk kehidupan manusia melalui tulisan yang pendek. Biasanya, cerpen memuat tidak lebih dari 10.000 kata.  Jika lebih dari itu, bisa dinamakan novel.

Nah, kali ini saya akan memberikan satu contoh cerpen karya saya.


'Dari Pengalaman Menjadi Pengamalan'


Aku punya mimpi. Lantas, apakah salah jika orang miskin sepertiku punya mimpi? Tidak, kata ibuku. Kehidupan yang keras mengajarkanku apa hidup yang sebenarnya. Tentang pengorbanan, perjuangan, cinta, dan kasih. Terlepas dari semua itu, ada satu hal yang amat kusyukuri dengan kehidupanku saat ini. Dialah mereka. Orang-orang yang sangat kusayangi, orang-orang yang mengajarkanku arti hidup yang sebenarnya.

Sejak kecil, ibuku terus saja meyakinkanku, bahwa aku harus jadi orang sukses. Bergelar S3 katanya. "Ndak masalah jika ibumu ini hanya lulusan SMP, tapi anaknya nanti bisa bergelar S3. Iya, to, Nduk?" kata ibuku dengan logat jawanya. Kala itu, ibu sedang menjahit. Memang itu sumber mata pencahariannya, mengais uang dari rajutan benang. Aku hanya tersenyum dan mengangguk saat ibu mulai menyerembet masalah S3. Menurutku, lucu saja jika aku bermimpi lulusan S3, sedangkan ekonomi keluarga saja pas-pasan. Untuk makan sehari-hari saja harus njelimet menjahit pakaian pesanan tetangga, apalagi lulusan S3 bisa bertahun-tahun njelimetnya. 

Saat itu adalah hari libur terakhirku, yang artinya besok harus memasuki bangku sekolah lagi. Sebenarnya cukup melelahkan berjalan 3 km ke sekolah, tapi mau bagaimana lagi, keadaan mengharuskanku menjalaninya.

Dan seperti biasa, sebelum aku berangkat sekolah ibu selalu memberikan senjata ampuhnya. "Ndak masalah kalau sekarang kamu jalan kaki 3 km, nanti kalau sudah sukses kamu bisa naik pesawat ke sekolah bareng teman-temanmu. Iya 'kan, Nduk?" tanya ibu sembari melirik teman-temanku yang sedari tadi cengengesan. Tapi benar, itu adalah senjata ampuh ibu supaya aku tidak berkecil hati saat melihat teman-temanku yang lain naik sepeda. Dan ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di SMPN 1 Purwokerto.

Butuh perjuangan masuk di sekolah favorit itu, belajar mati-matian siang  malam untuk menjalani tesnya. Alhasil, aku bisa memasuki SMP favorit ini dengan nilai yang cukup memuaskan. Lalu, aku menjalani suasana sekolah yang baru, seragam baru, teman-teman baru, guru-guru baru, dan tentunya cerita yang baru juga. Aku menjalani hari pertama biasa-biasa saja, berkenalan dengan banyak orang, beradaptasi dengan suasana baru, dan hal membosankan lainnya. Tapi tidak dengan hari-hari selanjutnya, aku menjalani masa-masa SMP dengan serius, nyaris tanpa candaan. Siang hari membantu ibu, sore hari mengaji, dan malam hari ku gunakan untuk belajar. Berlanjut sepanjang hari. Sampai-sampai teman-temanku menjuluki aku kutu buku-lah, profesor dadakan-lah, otak komputer-lah, dan masih banyak lagi julukan-julukan aneh yang kudapatkan hampir satu tahun ini. "Kara, nggak bosen, ya, baca terus. Aku ndak pernah liat kamu main sama kita, kamu sombong, ya, " itu sebagian dari celoteh mereka, tapi kuabaikan saja.

Tahun kedua kujalani seperti biasanya, belajar terus hingga nilai ku meningkat. Tak sedikit pula teman-teman yang memintaku mengajari mereka tentang pelajaran yang kurang mereka pahami. Bahkan, ada yang meminta jawaban langsung dariku untuk semua pertanyaan guru, alias nyontek. Tapi, ya sudah, ku abaikan saja. Mau pintar atau tidak itu 'kan urusan mereka, aku tak terlalu memikirkan apakah mereka paham atau tidak. Selain itu, aku juga telah mengikuti beberapa perlombaan dan memenangkannya. Hal itu tentu saja membuatku semakin dekat dengan bapak-ibu guru, dan yang pasti memudahkan proses belajarku. Tapi, ada satu keganjalan saat beberapa teman justru bersikap aneh saat aku dekat dengan bapak-ibu guru, semacam tidak suka. Tapi, ya sudahlah, lagi-lagi ku abaikan. 

Tahun ketiga, disinilah penentuan antara lulus atau tidak untuk tiga tahun belajar. Aku semakin keras belajar hingga larut malam, bahkan hingga aku jatuh sakit karena kurang tidur. Tapi, disanalah terjadi keganjalan yang amat sangat mengganjal. Saat itu, hampir semua teman sekelas berbaik hati padaku. Mulai dari mentraktir makan di kantin, membelikan novel favoritku, bahkan ada yang sampai membelikan aku beberapa kebutuhan pribadi. Bukankah itu sangat aneh? Sebelumnya mereka mengataiku aneh,  tapi sekarang mereka justru sangat baik padaku. Sebenarnya, apa yang mereka sembunyikan? Aneh.

Hingga ada satu sahabat yang sangat dekat padaku datang, dia bilang begini, "Hati-hati, Ra, sama mereka. Pasti ada maunya mereka baik-baikin kamu. Bukannya suudzan, tapi aku kenal mereka." kata Nada, mengingatkanku.
"Biarin-lah, Nad. Yang penting mereka ngasih, ya kuterima saja. Masalah itu dipikir belakangan," jawabku santai waktu itu.

Hingga saat tiga hari sebelum ujian sekolah tiba, Laras datang padaku. "Pokoknya, nanti pas ujian kamu harus ngasih contekan ke kita, otak komputer!" katanya tiba-tiba saat aku sedang asik membaca novel baru pemberiannya. Hei, apa maksud Si Jutek ini! Dia menyuruh aku menyontekinya dengan semudah itu? Memangnya dia pikir pintar itu instan, tidak-lah. Enak saja.
"Apa maksudmu?", tanyaku heran bercampur marah yang tertahan. "Atau aku akan minta ibu kamu yang miskin itu, untuk bayar semua utang anaknya." Hei hutang apa, Jutek. Bahkan, sepeser pun minta uang padamu tak pernah.
"Apa maksudmu, Ras?  Aku benar-benar tak mengerti," jawabku yang semakin bingung.
"Kalau dipikir-pikir, barang-barang yang kita kasih ke kamu itu harganya udah lebih dari se-juta, ya. Jadi kamu punya hutang segitu sama kita. Dan kalau kamu nggak mau ngasih contekan ke kita, aku akan tagih ke ibumu. Ngerti kamu, otak komputer!" bentaknya sebelum berlalu pergi, membiarkanku sendiri dalam kebingungan.

Aku semakin bingung. Aku berniat menemui Nada saat jam istirahat nanti, untuk menanyakan semuanya. 

Saat istirahat.

Aku melihatnya duduk di bangku taman belakang sekolah. Aku berjalan mendekatinya, wajahnya ditekuk.

"Nad, kamu tahu nggak, apa yang dilakuin teman-teman sekelasku?", kataku mengawali pembicaraan.
"Memangnya apa?", tanyanya singkat tak bergairah.
"Kamu tahu barang-barang yang pernah aku ceritain ke kamu dulu? Ternyata mereka memang berniat njebak aku, Nad. Pertama, mereka ngasih barang-barang itu supaya aku ngerasa punya hutang. Lalu, mereka minta aku balas budi sama mereka. Aku terlanjur menerimanya. Dan kamu tahu, ada yang lebih parah lagi, Nad." 
Kali ini dia menoleh, "Apa separah itu? Lalu, apa salahnya, teman-temanmu 'kan memang seperti itu," jawabnya singkat lagi.
"Dan yang lebih parahnya, nanti di ujian sekolah aku harus menyonteki mereka. Jika tidak, Laras akan nagih ke Ibuku lebih dari se-juta. Aku harus gimana, Ras?", ceritaku panjang lebar, berharap dia merespon dengan baik. 
"Itu 'kan pilihanmu, kamu nggak mau dengerin aku. Padahal aku sudah ngingetin kamu, Ra. Dan kamu lebih memilih barang-barang mewah itu daripada dengerin aku. Sekarang kamu rasakan sendiri akibatnya, tahu 'kan sekarang siapa yang sahabat beneran dan yang ada maunya saja," jawab Nada yang jauh dari dugaanku. 
"Bukan begitu, Nad, maksudku. Aku juga nggak tahu kalau akhirnya bakal kayak gini. Maaf-lah, Nad. Tolong bantu aku," kataku meminta.
"Yah, sekarang kamu harus jalani konsekuensinya. Ingat, tinggal tiga hari lagi, Ra. Jangan sampai kamu kecewakan orang tuamu, apalagi ibumu sudah berharap sangat besar padamu. Orang miskin seperti kita itu, harusnya menjalani hidup apa adanya. Kalau nggak bisa mewah, ya jangan dipaksakan," katanya sedetik sebelum pergi meninggalkanku di bangku taman ini sendiri. Seperti mengisyaratkanku untuk merenung dan berpikir.

Aku harus bagaimana, aku tak bisa cerita pada Ibu. Lalu, apa mungkin aku harus membayar hutangku? Tak mungkin jika aku mencari uang sebanyak itu dalam waktu hanya dua hari. Ya Tuhan, tolong aku.

Hari berganti hari. Tibalah saat ujian sekolah. Aku pasrahkan semuanya pada Allah. Berharap hari ini akan segera berakhir.

Ketika hendak memasuki ruang ujian, Laras menarik tanganku. "Ingat, kamu punya hutang pada kita semua.", katanya mengancamku. Aku semakin gugup, tapi berhasil kutenangkan lagi diriku.

Seminggu setelah ujian, saat acara perpisahan.

"Kara, ibu berharap kamu dapat nilai tertinggi, Nduk.", kata Ibu sesaat sebelum pengumuman nilai tertinggi.
"Kalau ndak bisa bagaimana, Bu?", tanyaku tanpa keyakinan.
"Kalau ndak juga ndak apa-apa, Nduk. Kamu 'kan sudah berusaha semampumu to, jadi tinggal serahkan semua pada Allah. Yang penting, kamu harus yakin sama dirimu sendiri," kata Ibu yang kembali mengeluarkan senjata ampuhnya untuk membesarkan hatiku. Aku pun mengangguk dengan pasti.

Saat perjalanan pulang. 

"Sudah. Jangan berkecil hati, yang penting kamu lulus dengan nilai yang jujur to? Saingannya 'kan juga berat-berat. Jangan dipikirkan. Begini pun ibu sudah bangga sama kamu, jadi jangan sedih, ya." Ibu kembali menenangkanku saat perjalanan pulang. 
"Maafin Kara, ya, Bu. Kara ngecewain ibu." kataku sedih.
"Sudahlah, Ra. Sekarang yang harus dipikirkan itu, kamu mau ngelanjutin ke mana?", kata Ibu mengalihkan pembicaraan sambil mengajakku masuk ke warung kopi kecil di pinggir jalan.
"Kara pengennya di SMA 1 Purwokerto. Ndak apa 'kan, Bu?" tanyaku memastikan.
"Ndak masalah kalau kamu pengennya ke sana. Yang terpenting, belajar yang bener.  Ibu yakin sama kamu!".

Kali ini aku tak akan mengecewakan ibu. Aku tak akan terpengaruh dengan iming-iming kemewahan teman-temanku nanti di sana. Benar kata Nada, orang miskin seperti kita seharusnya menjalani hidup apa adanya. Kalau nggak bisa mewah, ya jangan dipaksakan.

Tiga tahun berlalu.

Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya. Bahwa kali ini aku tak akan mengecewakan ibu. Aku berhasil lulus dari SMA 1 Purwokerto dengan nilai yang memuaskan, dan seperti mimpi ibuku tiga tahun yang lalu. Aku mendapat nilai tertinggi dalam satu sekolah. Tak hanya itu, yang paling kusyukuri adalah, bahwa aku bisa bertahan dari iming-iming kemewahan teman-temanku dan tetap dengan kesederhanaanku. Seperti yang dulu selalu kulakukan di bangku sekolah dasar bersama Nada, sahabat terbaikku.

Aku menatap gedung sekolahku bersama dia.

"Memang benar apa katamu, orang miskin seperti kita harusnya menjalani hidup apa adanya. Kalau ndak bisa mewah, ya jangan dipaksakan. Iya 'kan, Nad." Aku memulai pembicaraan dengan penuh haru. Sebab, setelah ini kita akan berpisah dengan pilihannya masing-masing.

"Kamu salah kalau bilang kita ini miskin, yang betul itu sederhana," 

Kami bertatapan sejenak, lantas tertawa bersamaan.

"Siapa tahu, nanti kita bisa berangkat sekolah naik pesawat. Seperti yang ibumu bilang dulu," lanjutnya sambil berbalik arah menuju gerbang sekolah.

Aku menyusulnya, lantas kami kembali tertawa lepas bersamaan. Semoga aku bisa menemukan momen ini lagi lain waktu. Semoga.
    
    *****

Oke, Sobat. Itu tadi contoh cerpen  yang coba saya buat. Maaf kalau jelek, namanya juga baru belajar. Itu hanya contoh, kalian bisa buat yang lebih baik dari saya.

Semoga bermanfaat. Untuk lanjutannya, tunggu di postingan berikutnya. Saya akan berikan contoh-contoh lainnya. 

Kalian bisa keluarkan unek-unek kalian di kolom komentar. Karena komentar kalian sangat berguna untuk kemajuan blog ini. Terimakasih sudah berkunjung di blog saya yang sangat sederhana.

Wassalamu'alaikum Wr.  Wb.
    

Jumat, 23 Juni 2017

Cara Menulis Yang Baik dan Benar

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat datang di Izzah-rahma Blog. Hai, Sobat! Bagaimana kabarnya hari ini? Moga baik, ya. Sebelumnya kita sudah bahas, bagaimana cara menghasilkan melalui tulisan. Nah, untuk proses menghasilkan itu sendiri dibutuhkan kemampuan menulis.

"Terus, gimana caranya nulis yang baik, mbak?"


Saya juga nggak tahu, Sob. Hehehe. Tapi, jangan khawatir. Nanti, kita akan belajar bareng-bareng.

Pada dasarnya, tulisan yang baik adalah tulisan yang membuat orang lain nyaman saat membacanya. Nyaman itu sendiri menurut saya dibagi menjadi 2, nyaman karena tulisan itu baik, dan nyaman karena tulisan itu benar.

Oke, nggak usah banyak bicara, langsung saja kita mulai pembahasannya.

Inilah beberapa kriteria tulisan yang baik.

1. Tulisan yang ditulis dengan hati.


"Nulis kok pakai hati, gimana, sih?"


Hehehe, iya maksud saya bukan seperti itu. Menulis dengan hati maksudnya, menulis dengan perasaan. Bukan menulis  asal-asalan. Mendatangkan perasaan saat menulis sangat sulit untuk dilakukan. Butuh suasana yang mendukung.

Tulisan yang ditulis dengan perasaan, akan terasa nyaman saat dibaca. Sebab, penulis menuangkan seluruh perasaan dan emosinya dalam sebuah tulisan. Hal ini juga dibutuhkan dalam tulisan yang baik.

2. Tulisan yang kalimatnya efektif dan tidak bertele-tele.


"Kalimat efektif itu bagaimana, sih?"


Menurut sumber terpercaya saya, tahu 'kan? Si Google, dan beberapa buku yang pernah saya baca, bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang pemilihan katanya tepat, baik ejaan maupun tanda bacanya. Begitupun dengan susunan kalimatnya.

Nah, selain itu kalimat yang digunakan juga jangan bertele-tele. Artinya, jangan menggunakan kalimat yang tidak diperlukan atau memiliki arti yang sama.

Contoh        : Para ibu-ibu rumah tangga sedang berkumpul bersama untuk arisan di rumah Bu Ani.
Seharusnya: Para ibu rumah tangga sedang berkumpul di rumah Bu Ani untuk arisan.

3. Tulisan yang baik selalu membawa pembaca larut di dalamnya.


Yaps, yang terakhir adalah membuat tulisan yang bisa mengajak pembaca larut di dalamnya. Tulisan yang terasa mengalir saat dibaca, dan membuat pembaca terikat dengan tulisan tersebut, sehingga membacanya sampai akhir.

Dengan begitu, pembaca akan merasakan kesan tersendiri ketika membaca tulisan kita. Sehingga ada keinginan untuk terus-menerus membacanya.

Kriteria tulisan yang baik sudah kita bahas bersama-sama. Sekarang kita akan bahas, bagaimana, sih, tulisan yang benar? Oke, lanjut!

1. Tulisan dengan ejaan dan tanda baca yang tepat.

Saya yakin, nggak ada penulis yang sempurna. Penulis sehebat apapun pasti pernah melakukan kesalahan dalam ejaan ataupun tanda baca. Buktinya, beberapa novel karya penulis ternama yang pernah saya baca sekalipun, pasti ada yang typo. Karena memang dasarnya karya manusia tidak ada yang sempurna. Begitupun dengan artikel ini yang bahkan ditulis oleh blogger amatiran, pasti sangat jauh dari kata sempurna.

Pembaca akan merasa nyaman saat membaca tulisan yang penggunaan ejaan dan tanda bacanya tepat, nyaris tanpa typo. Walaupun nggak ada yang sempurna, okelah kalau kita mencoba untuk sempurna.

2.  Tulisan dengan struktur kalimat yang benar.

Tulisan yang benar, hendaknya ditulis dengan struktur kalimat yang benar juga. Supaya pembaca tidak bingung saat membaca tulisan kita.

"Bagaimana struktur kalimat yang benar?"


Struktur kalimat yang benar adalah struktur kalimat dengan susunan katanya yang runtut dan tidak 'mbuleti', dalam bahasa jawanya. Jadi, pembaca akan dengan mudah mengerti apa yang kalian tuliskan jika struktur kalimatnya benar.

3. Tulisan yang benar, pasti berasal dari sumber yang benar juga.

Memang betul, tulisan yang benar berasal dari sumber yang benar juga. Kalau sumbernya salah, berarti itu tulisan atau informasi yang hoax. Tahu hoax 'kan? Anak gaul seperti kalian, masa nggak tahu?

Jika kita menulis informasi dari sumber yang salah, otomatis pembaca tak akan mau lagi membaca tulisan kita. Mengapa harus membaca tulisan hoax, jika ada yang fakta? Maka dari itu, usahakan tulisan kita berasal dari sumber yang benar, ini juga untuk menarik kepercayaan pembaca.

Nah, kita sudah bahas, bagaimana seharusnya tulisan yang baik dan benar, sekarang ikuti langkah-langkah menulisnya. Lanjut, Sob!

1.Tetapkan niat dalam hati.

Walaupun sepele, tapi ini adalah kunci utama menulis. Sholat saja niat, masa nulis nggak? Jangan terburu-buru dengan waktu, menulis harus khusyu'.

Niatkan dalam hati, apa tujuanmu menulis. Lakukan semua yang terbaik, jika niatmu baik maka hasilnya juga akan baik. Karena segala amal perbuatan kita tergantung pada niat. Hehehe, ndalil ni, ye...

2. Tentukan topik.

Topik atau tema harus ditentukan terlebih dahulu sebelum kita menulis. Karena kalau nggak ada topik, tulisan kita nggak akan jelas arah tujuannya. Tentukan topik yang menarik dan kamu kuasai, sehinga kamu akan dengan mudah menuliskannya.

3. Carilah data pendukung.


"Apa itu data pendukung?"


Data pendukung bisa berupa fakta mengenai topik yang kamu bahas. Carilah data yang benar-benar akurat, supaya pembaca nggak tersesatkan oleh tulisanmu. Jika sumbernya terpercaya, maka pembaca tidak akan ragu-ragu membaca tulisan kalian hingga akhir.

4. Kembangkan topik menjadi paragraf yang menarik.

Setelah menentukan topik dan mencari data pendukung, sekarang kalian tinggal mengembangkannya menjadi beberapa paragraf yang padu. Ingat, harus ada ide pokok disetiap paragraf. Jangan sampai dalam satu paragraf, pembahasannya amburadul.

Setelah itu, padukan semua paragraf dalam satu bentuk tulisan yang menarik.

5. Merevisi tulisan kalian yang sudah jadi.

Bisa berbahaya jika tulisan kalian sudah jadi dan menarik, tapi masih banyak typo. Nah, sebelum tulisan itu dipublish, dikumpulkan, atau diproses lebih lanjut, maka kalian harus merevisi tulisan kalian.

Apakah sudah sesuai EYD, struktur kalimatnya sudah benar, atau ejaan dalam penulisannya sudah benar. Teliti seteliti mungkin sebelum tulisan kalian akan diproses lebih lanjut lagi.

6. Menulislah sekarang.

Percuma juga kalau sudah tahu cara menulis yang baik dan benar, tapi hanya ada di angan saja. Tuliskan semuanya sekarang. Tunggu apa lagi? Saya yakin,  kalian yang terdampar di blog ini, pasti punya ketertarikan dengan dunia tulis-menilis.

Saya juga yakin, kalian semua pasti bisa menulis. Kalau bisa membaca, mana mungkin tidak bisa menulis.

7. Kalian tambahkan sendiri...


Oke, itulah beberapa kriteria tulisan yang baik dan benar,  serta cara menulisnya. Semoga postingan kali ini bermanfaat.

Terimakasih sudah berkunjung di blog yang sangat sederhana ini.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Selasa, 20 Juni 2017

7 Cara Mendapatkan Uang Dengan Menulis

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat datang di Izzah-rahma Blog. Menindaklanjuti postingan sebelumnya, kali ini kita akan bahas salah satu alasan menulis. Kebanyakan orang mungkin belum tahu, jika menulis bisa menghasilkan.

 "Menghasilkan apa, mbak?"


Tentu saja menghasilkan uang. Memangnya bisa? Tentu bisa. Jangan sampai kalian berhenti menulis setelah tahu informasi ini. Karena, potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa harus kita manfaatkan semaksimal mungkin.

Nah, bagaimana caranya? Sabar, Sobat. Jangan terburu-buru. Nanti akan saya jelaskan dibawah. Oke, lanjut terus!

Tanpa banyak bicara inilah beberapa cara bagi kalian yang pengen menghasilkan dari menulis.

Menghasilkan uang dari menulis konten.


Konten yang dimaksud disini adalah konten dalam situs-situs atau portal berita. Kita bisa bekerja pada mereka dengan menuliskan sebuah artikel dengan tema yang telah mereka tentukan.

"Kalau masalah uangnya gimana, mbak?"


Masalah honor tergantung jumlah kata dalam setiap artikel yang kalian buat. Biasanya, satu artikel akan dihargai Rp.15.000 dalam 500 kata kertas A4. Jika sehari kita berhasil membuat 5 artikel saja, maka dalam sehari kita akan mendapatkan Rp.75.000. Bayangkan jika satu bulan,  cukup menggiurkan 'bukan?

Nah, jika kalian ingin mendapat honor yang lebih besar, maka buatlah artikel sebanyak-banyaknya.

Mendapat uang dengan mengirim karya ke media.


Kalian yang hobi menulis, pasti punya banyak karya yang telah kalian ciptakan. Mulai dari puisi, esai, cerpen, artikel, ataupun opini. 'Kan lucu jika kalian menulis sesuatu, lalu membacanya sendiri. Nah, jika kalian bingung mau melakukan apa untuk karya kalian itu, kalian bisa mengirimnya ke media, Sobat. Bisa media cetak maupun elektronik. Media cetak bisa berupa koran ataupun majalah, sedangkan media elektronik bisa berupa website atau lainnya yang menerima secara online.

Karya-karya kalian itu nantinya akan di seleksi, jika karya kalian layak maka akan diterbitkan. Tentu saja kalian akan mendapatkan honor dari sini. Jika saja satu cerpen dihargai 100 ribu, maka bisa dihitung berapa kali cerpen kalian diterbitkan dalam satu bulan.

Nah, kalau artikel honornya lebih kecil, mungkin sekitar Rp.50.000/artikel. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, jika ingin honor yang lebih tinggi buatlah artikel sebanyak-banyaknya.

Mendapat uang dari menulis naskah.


Kalian tahu siapa dibalik film, sinetron, ataupun teater yang menarik? Tentunya penulis handal yang mampu menghidupkan cerita, bukan? Nah, bagi kalian yang ingin honor dari hobi menulis salah satunya adalah sebagai penulis naskah.

Honor yang akan kalian dapat juga cukup menggiurkan, Sobat. Tergantung kepada siapa kalian bekerja.

Namun, kalian  harus punya kemampuan menulis yang baik dan pengetahuan yang cukup luas untuk membuat sebuah naskah yang menarik. Hal itu diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan dari perusahaan kalian bekerja.

Mendapatkan uang dari editor.


Meskipun tidak terlalu berkutat dengan tulisan, bagi kalian yang sudah mahir dan terbiasa menulis, pekerjaan ini cocok untuk kalian. Karena membutuhkan pengetahuan tentang kaidah-kaidah Bahasa Indonesia ataupun struktur kepenulisan yang baik dan benar.

Untuk honornya, jangan khawatir, Sobat. Sebab, tergantung pada siapa kalian bekerja. Jika bekerja pada penerbit, kalian akan digaji per-bulan. Tapi jika penulis lepas, maka honornya tergantung kesepakatan.

Namun, jangan heran jika pekerjaan ini membosankan, itulah yang saya tahu.

Mendapatkan uang dari menulis buku.


Pekerjaan yang satu ini pasti sudah banyak kalian ketahui. Kalian tinggal menulis satu naskah penuh, lalu mengirimkannya ke penerbit. Jika naskah kalian layak untuk diterbitkan, maka naskah kalian akan naik ke percetakan, dan kalian tinggal menunggu karya kalian diterbitkan.

Ada dua komisi disini, komisi beli putus dan royalti. Beli putus disini makasudnya naskah kalian dibeli secara penuh oleh penerbit. Penerbit berhak mendapat keuntungan dari naskah kalian yang telah diterbitkan. Komisi royalti adalah dimana kita mendapat persentase dari keuntungan yang didapat.

Tapi jangan salah, untuk menembus penerbit saja sudah cukup sulit. Karena kita akan bersaing dengan banyak penulis diluar sana. Penulis juga harus memperhatikan pasaran ketika hendak menulis buku. Maksudnya, penulis harus tahu buku apa yang sedang dicari oleh pembaca. Jangan sampai buku yang telah susah payah kita buat tidak laku di pasaran, gara-gara tidak tahu minat pembaca. Bukannya nakut-nakutin, Sobat.


Mendapat uang dari Ghostwriter.


"Ghost writer? Apa sih, mbak?"


Ghost writer itu kalau dalam bahasa indonesia berarti penulis bayangan. Dimana kalian menjual karya kalian kepada seseorang, dan mereka mendapat hak cipta sepenuhnya dari karya kalian.

"Apa nggak rugi, mbak?"


Hehehe, kalau itu sih saya nggak bisa jamin, Sobat. Soalnya, saya juga belum pernah coba. Tapi, tergantung kesepakatan kalian kepada klien. Biasanya tulisan kita akan dihargai sangat besar oleh mereka,  walaupun hak cipta sepenuhnya milik mereka.

Ghost writer biasanya terjadi antara penulis dan tokoh publik yang ingin membuat karya, tapi tidak memiliki banyak waktu dan kemampuan menulis yang mumpuni.

Bahkan, diluar negeri Ghost writer sudah menjadi pekerjaan utama disana.

Mendapat uang dari nge-blog.


Nah, yang terakhir ini susah-susah mudah, sih. Kalian hanya tinggal membuat blog dan mengisinya dengan konten.

"Terus, susahnya dimana, mbak?"


Susahnya itu disini. Tidak sedikit blogger yang berhenti ditengah jalan gara-gara blognya sepi pengunjung ataupun kehabisan ide. Untuk membuat blog yang besar, diperlukan banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Nggak bisa kalau langsung instan.

Kalian tahu Mas Sugeng? Blogger yang sekarang sukses itu saja baru bisa menghasilkan dari blognya selama 2 tahun. Cukup lama 'bukan? Jadi, nge-blog itu butuh kesabaran ekstra dan konsisten.

Tapi, jangan khawatir, Sobat. Jika kalian bisa membangun blog yang besar dan berkualitas, maka keuntungan tak akan henti-hentinya mengalir.

Itulah beberapa keuntungan yang bisa kita hasilkan dari menulis. Seperti yang saya katakan pada postingan sebelumnya, jangan jadikan uang sebagai motivasi menulis. Mengapa? Karena cepat atau lambat kalian akan mengalami kebosanan.

Saya sendiri belum mencoba semuanya, baru mengirim ke media dan nge-blog. Jadi, belum ada hasil yang saya dapatkan. Namun, sejauh ini saya enjoy saja menulis. Karena ini adalah hobi saya.

Yang paling menyenangkan dari sebuah pekerjaan adalah 'hobi yang dibayar'.

Inti dari semua itu adalah kemampuan menulis. Nah, bagaimana cara menulis yang baik? Tunggu postingan selanjutnya.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Selasa, 13 Juni 2017

Mengapa Harus Menulis

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
― Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

Selamat datang di Izzah-rahma Blog.
Pernahkah kalian berfikir, mengapa saya harus menulis? Mungkin pernah, saya sendiri sering berfikir seperti itu. Setelah membaca banyak buku, saya sering berfikir untuk menuliskannya. Mengapa? Karena seperti air dalam gelas yang sudah penuh, jika ingin mengisinya lagi kita harus menuangkan air itu dalam wadah lainnya. Begitupun  saat kita sudah memiliki banyak pengetahuan dan ingin mencai tahu, lagi, dan lagi. Maka, kita harus menuliskan apa yang kita tahu, supaya tidak lupa. Walaupun nggak harus, sih, tergantung kaliannya gimana?

Menulis itu sebenarnya nggak susah, kok. Asalkan kita punya ide akan menulis apa. Kalau kalian belum punya ide juga tidak masalah, tulis saja apapun yang ingin kalian tulis, nanti ide itu akan muncul dengan sendirinya.

Kembali ke topik awal, mengapa harus menulis? Ini dia beberapa alasannya.

1. Menulis untuk mengekspresikan diri.

Kalian tahu introvert? Katanya, introvert itu orang yang cenderung pendiam dan susah bergaul. Terkadang mereka juga kesulitan dalam mengekspresikan dirinya, karena itulah kepribadian mereka.  Tapi jangan khawatir untuk kalian yang introvert, karena ada alternatifnya. Yaps, dengan menulis. Kalian bisa mengungkapkan apa yang kalian rasakan melalui tulisan. Jujur, saya sendiri juga susah untuk mengungkapkan sesuatu, jadi menulis adalah salah satu alternatifnya.

2. Menulis sebagai sarana untuk berbagi.

Eitss, berbagi itu nggak harus dengan barang atau uang, loh! Dengan tulisan pun kita bisa berbagi, apapun itu asalkan yang positive, ya. Justru saat orang lain merasakan manfaat dari tulisan yang kita bagikan, disitulah terdapat kesenangan tersendiri. Kita pun akan merasa dihargai jika ada orang yang mau membaca tulisan kita. Jadi, nggak ada alasan untuk tidak berbagi, walaupun hanya sebatas tulisan.

3. Membantu untuk mengingat informasi.

Seperti yang sudah saya katakan diatas, ilmu itu akan hilang jika tidak diikat. Dan dengan apa kita mengikatnya? Tentu dengan tulisan, mana mungkin dengan tali. Setidaknya, itulah yang sering dikatakan oleh guru bahasa inggris saya. Bayangkan saja, sebanyak apapun informasi yang kita peroleh, tapi jika kita lupa, itu semua akan sia-sia. Karena, lupa adalah penyakit utama dalam mencari ilmu, maka dari itu menulislah.

4. Memperluas jaringan pertemanan.

Kalian tahu blog? Pasti tahu, karena  yang sedang kalian baca sekarang adalah artikel dalam blog saya. Tulisan yang dipublikasikan atau ditulis di blog akan muncul dalam mesin pencari google atau yang lainnya. Saat ada seorang pengunjung yang membaca artikel kalian dan tertarik dengan artikelnya, maka yang dicari tahu pertama kali pasti penulisnya. Nah, disinilah kesempatan kalian untuk memperluas jaringan pertemanan. Begitupun dengan seorang penulis, mereka atau mungkin kalian bisa berkumpul dengan sesama penulis dalam satu komunitas. Hal itu bisa memperluas jaringan pertemanan dan menambah pengetahuan.

5. Berinvestasi untuk masa depan.

Maksudnya? Kalian pernah dengar kalau kita bisa dapat uang dari tulisan? Mungkin ada yang pernah, ada juga yang belum. Ternyata, kita bisa dapat penghasilan dari menulis, loh. Bagaimana caranya? Nanti kita lanjut di postingan berikutnya. Yang pasti, menulis itu jangan karena uang, karena jika berambisi untuk menghasilkan uang, kita akan cepat bosan. Menulis itu harus dinikmati seperti air yang mengalir,  biarkan semua mengalir sebagaimana mestinya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kalian yang lagi bimbang antara mau menulis atau tidak. Ingat, terus menulis, ya, Sobat!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Kamis, 08 Juni 2017

5 Manfaat Membaca

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat datang di Izzah-rahma Blog. Masih dalam topik yang sama, sebelumnya kita sudah bahas "Tips Meningkatkan Minat Baca". Kali ini kita akan bahas tentang manfaat membaca yang ternyata jarang diketahui banyak orang.

Mungkin sebagian orang enggan membahas topik ini, tapi tanpa kalian sadari kalian juga melakukannya. Buktinya, sekarang kalian lagi baca artikel ini. Membaca itu seribu guna, seperti pohon kelapa aja, ya. Nah, apa aja, sih, manfaatnya? Ikuti terus sampai ujung, ya, Sobat!

1. Membaca itu menambah pengetahuan.

Kalau yang satu ini, pasti kalian semua sudah tahu 'kan? Membaca adalah kegiatan yang mengajak kita untuk terus mencari tahu tentang suatu hal. Semakin banyak membaca, maka pengetahuan kita tentang suatu hal akan semakin bertambah juga. Membaca adalah kegiatan yang tidak akan pernah ada bosan-bosannya. Walaupun membaca bertumpuk-tumpuk buku pun kita tak akan bosan, karena semakin banyak membaca, makin penasaran.

2. Meningkatkan konsentrasi dan fokus.

Di zaman yang canggih ini, kita selalu berkutat dengan teknologi, setiap saat. Seperti halnya smartphone, komputer, dan banyak teknologi lainnya yang selalu menarik kita untuk terus menggunakannya. Bahkan dalam waktu yang bersamaan. Hal itu mungkin akan menyebabkan stress dan menurunkan produktivitas.

Mengapa? Karena kita tidak terfokus pada satu hal saja. Nah, dengan membaca maka kita hanya akan terfokus pada apa yang kita baca, sehingga hal itu bisa meningkatkan konsentrasi dan fokus. Luangkan setidaknya 5-10 menit untuk membaca sebelum kita beraktivitas.

3. Meningkatkan kemampuan menulis.

Membaca dan menulis adalah sesuatu yang saling berhubungan. Dengan membaca, kita akan menemukan banyak kosakata baru yang bisa kita tuangkan dalam tulisan. Tulisan sepanjang apapun tidak akan membosankan jika dikemas dengan menarik.

Nah, untuk itu, ayo perbanyak membaca untuk kalian yang ingin meningkatkan kualitas tulisan atau karangan kita.

4. Menjadi seorang yang kritis dan analitis.

Pernahkah kalian membaca novel misteri atau teka-teki dan kalian berhasil memecahkannya? Jika iya, maka kalian meletakkan pemikiran yang kritis dan analitis dalam penyelesaiannya. Karena dengan membaca kita diajak untuk terus mengikuti alur cerita hingga akhir, yang biasanya mengharuskan kita untuk memutar otak dua kali dalam penyelesaiannya.

Pemikiran ini juga berguna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di sekitar kita.

5. Memberikan ketenangan dan hiburan gratis.

Mungkin sebagian orang merasa pusing dan bosan jika harus berhadapan dengan buku. Namun, membaca justru membuat kita tenang, karena kita terfokus pada buku dan melupakan selain buku.

Selain itu, kita tidak perlu merogoh kocek untuk sebuah hiburan. Karena membaca pun adalah hiburan gratis bagi mereka ataupun kalian pecinta baca.

Nah, masih bosan baca? Pasti enggak. Karena tanpa kalian sadari, kalian sudah membaca artikel ini sampai ujung.

Oke, sekian postingan kali ini. Semoga bermanfaat untuk Sobat di luar sana.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.